Kamis, 20 September 2012

Love You As The Way You Are (Part 3) Cinta Satu Sisi



So Eun merasa sakit hati dengan ucapan Kim Bum. So Eun pergi meninggalkan ruangan dengan mata yang berkaca-kaca. Geun Suk mengikuti langkah So Eun tanpa sepengetahuannya. Geun Suk segera menyodorkan tisu. Berlembar-lembar tisu telah So Eun habiskan untuk menghapus air matanya. Geun Suk dengan sabar menanti So Eun. 30 menit berlalu tanpa ada kesadaran dari So Eun.
“Geun Suk,” ucap So Eun saat menyadari saat menyadari orang yang berada di sampingnya.
“Apa yang harus aku lakukan. Aku sudah mati kutu di depan Kim Bum,” ujar So Eun saat menelpon Ji Yeon.
Ji Yeon hanya menjawab, “Aja aja hwaiting..”
“Hiksss. Ottoke,” isak So Eun kembali.
Perjuangan untuk menaklukan hati Kim Bum tak berhenti begitu saja. So Eun kini telah membuat bekal cinta untuk Kim Bum.
“Hey pangeran Jepang, kali ini aku membuatkan sushi untukmu, terimalah..” ujar So Eun sembari menyodorkan bekalnya.
Melihat bekal makanan yang disodorkan So Eun, Kim Bum tidak peduli.
“Hong Ki, apakah kau sedang lapar?” Tanya Kim Bum
“Iya, aku sangat lapar. Wae?”
“Kalau begitu ambil saja makanan dari So Eun. Aku sudah kenyang,” ujar Kim Bum berlalu.
“Wah… cinta satu sisi,” ujar Hong Ki. Mendengar perkataan Hong Ki. So Eun segera menyumpal mulut Hong Ki dengan potongan sushi.
“Bogo.. bogo..bogo…” teriak So Eun sebal.
Keesokan harinya So Eun kembali membawa bekal untuk Kim Bum.
“Kim Bum, ini makanan untukmu. Kali ini kau tidak bisa menolak lagi karena Hong Ki sudah kenyang,” ujar So Eun sambil menyikut Hong Ki.
“Ne, aku sudah kenyang. Saaaaangat kenyang,” jawab Hong Ki.
“Apakah kau yakin aku akan menerima bekalmu ini.
“Iya..” angguk So Eun.
“Aku tak mau. Perutku sudah terisi penuh. Taruh saja di tong sampah. Kebetulan belum terisi,” tolak Kim Bum menunjuk tong sampah di taman. Kim Bum berlalu begitu saja tanpa memperdulikan So Eun. Tak terima perlakuan Kim Bum, So Eun segera menarik tangan Kim Bum. Ia tak sudi jika Kim Bum menolak untuk kedua kalinya. Ia menjatuhkan tubuh Kim Bum ke kursi. Mau tak mau Kim Bum harus menata posisi duduknya agar tidak terjatuh. So Eun menyodorkan makanannya.
“Makanlah..” pintanya
“Aku tak mau,” acuh Kim Bum membuang muka.
“Braaakkkk..” So Eun menggebrak meja dengan kerasnya.
“Andwe kamu harus makan,” paksa So Eun.
Kim Bum terpaksa menuruti perintah So Eun. Dibukanya kotak makanan tersebut. Senyum ceria terukir dari bibir Kim Bum saat melihat makanannya ternyata menyerupai wajahnya.
“Selamat makan pangeran Jepang.”
So Eun mendekatkan wajahnya 3 cm dari wajah Kim Bum. Kemudian ia meninggalkan Kim Bum yang sedang asyik melahap makanannya.
****
So Eun kembali latihan basket. Ia sudah resmi mengundurkan diri dari anggota cheer mengingat ia hanya melakukan kekacauan.
“Shoot..” ujar Geun Suk mendekati So Eun.
“Heyy rupanya kau.” So Eun menoleh ke arah Geun Suk.
“Akhirnya kau kembali.”
“Mola.. aku juga rindu main basket. Tanganku serasa kaku kalau tidak memegang bola,” lelucon So Eun.
Geun Suk memandang So Eun dengan lekat. Gadis yang ia cintai selama ini. Hanya dia sendiri yang tahu hal itu karena ia sama sekali mengungkapkannya.
“So Eun, sabtu malam main ke taman bersama aku. Yuukk,” ajak Geun Suk.
So Eun pun menjawabnya dengan mengangguk tanda menyutujui ajakan Geun Suk.
Sepasang mata Kim Bum tak lepas dari Yuri yang sedang asyik maen piano. Sudah hampir 2 minggu Ia mengamati Yuri memainkan pianonya. Seluruh pelayan sudah tahu apa menu untuk Kim Bum yang jelas menu yang akan dipesan harganya paling mahal. Kini Kim Bum memiliki keberanian untuk menghampiri Yuri.
“Yuri, , opss miss Yuri,” sapa Kim Bum
“Ahh Kim Bum, tumben sekali,” timpal Yuri tersenyum
“Sebenarnya selama 2 minggu ini saya mengamatimu disini,” kata Kim Bum menunduk.
Ia sungguh kaku berhadapan dengan gurunya.
“Mwo,” kaget Yuri.
“Ne, aku sudah mengagumi seorang wanita cantik semenjak pertama kali melihatmu,” ucapan Kim Bum mengejutkan Yuri.
“Kim Bum kau jangan mengada-ada,” kata Yuri masih heran dengan perkataan kim Bum.
“Saya tidak mengada-ada. Mungkin saat ini Anda tidak percaya. Namun saya benar-benar serius ingin menjadi teman kencanmu. Maukah Anda menemaniku malam ini,”
“Anni, kamu itu muridku Kim Bum. ini tidak pantas,” jawab Yuri.
“Jebal,” ucap Kim Bum memohon.
“Mianeyo, sebagai gantinya aku akan mengundangmu dalam pertunjukkan piano di sini,” kata Yuri sambil tersenyum lebar.
“Ne, aku pasti datang. Suatu saat nanti aku akan buktikan padamu.” Ujar Kim Bum memantapkan hatinya.
Geun Suk yang sudah siap dengan mantel coklatnya kini bergegas menuju taman. Ini adalah kencan pertamanya bersama So Eun. Ia sudah bertekad akan menyatakan cintanya kepada So Eun. Perasaan itu telah ia simpan kian lama. Dia kira seiring berjalannya waktu dapat melupakan So Eun. Dugaannya melesat, semakin ia melihat So Eun semakin besar pula cintanya. So Eun sudah duduk di atas ayunan sembari menunggu Geun Suk.
“Mianhe, aku terlambat,” ujar Geun Suk.
“Anni, aku saja yang terlalu cepat datang,” timpal So Eun.
Hawa dingin Seoul merasuk ke tubuh mereka. Sepertinya akan hujan, makanya So Eun sudah mempersiapkan payungnya. So Eun mengambilnya headsetnya dan menaruh ke telinganya. Ditemani dengan lagunya ‘Romantic Shinee’ Ia memain-mainkan ayunannya. Lama tak ada percakapan di antara mereka. Geun Suk sudah mempersiapkan pengakuan cintanya kepada So Eun namun setelah bertemu dengannya, seakan ada badai yang menghalangi pengakuan cintanya.
“Begitu lucu jika kau mendengarkan perasaanku. Ini bukan lelucon tapi inilah sebernarnya yang ingin aku katakan dari dulu, semenjak aku melihatmu bermain basket. Perasaan ini aku sudah pendam sekian lama. Hari inilah aku berani mengungkapkannya. Maukah kamu menjadi kekasihku?” ungkap Geun Suk. Begitu takut akan ditolak So Eun.
“Mworago,” ujar So Eun sambil melepaskan headsetnya.
Ia sama sekali tak mendengarkan perkataan Geun Suk.
“Anni, aku tak mengatakan apa-apa,” jawab Geun Suk berbohong.
Ia tak punya keberanian lagi untuk mengungkapkan cintanya.
“Hahhh aku sudah puas di taman ini, malam sudah semakin larut. Aku pulang dulu ya.” Pamit So Eun pergi. Geun Suk hanya bisa mengepalkan tangannya kesakitan.

         Yuri menyanyikan lagi mistake yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Diiringi dengan suara piano yang dimainkannya.  Lagunya begitu sedih. Sampai Yuri menitikkan air matanya. ia mengingat masa bersama kekasihnya dulu. Makna lagu itu berkaitan erat dengan kisahnya. Di mana ia tidak bisa membuat kekasihnya jatuh cinta seperti apa yang diinginkannya. Kini kekasihnya telah pergi dan itu kesalahannya karena Ia tak bisa melupakannya.
Suaranya Yuri begitu merdu membuat peserta yang berada di Café menghayati alunan irama. Kim Bum semakin terpana melihat penampilan Yuri. Pertunjukkan pun selesai Yuri keluar dari ruangan menuju mobilnya. Tiba-tiba Kim Bum datang dan langsung memeluk Yuri. Adegan mereka terekam oleh mata So Eun. Hati So Eun begitu terpukul melihat pemandangan di depannya. Hatinya terasa diiris. So Eun merasa sakit hati, amat sakit bagai puluhan jarum menusuk hatinya. Ia tetap tegak memandangi mereka berdua. Tak peduli dengan hujan yang mulai turun. So Eun memegang dadanya menahan rasa sakit yang dialaminya.

To be continued. . . . . 


Please don't be silent reader
Be a good reader by give your comment

Love You as the Way You Are (Part 2) Berubah Demimu



Yuri merapikan buku yang terletak di atas mejanya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih tasnya dan keluar ruangan tanpa ia sadar ada sepasang mata sedang membuntutinya. Sepasang mata itu melihat Yuri ke parkiran mobil dan meraih mobil berwarna putih. Yuri berhenti di sebuah kafe. Kim Bum yang membutuntinya hingga sampai disana heran dengan tempat yang dituju Yuri. Bukannya langsung pulang ke rumah melainkan singgah di kafe. Sepertinya kafe itu merupakan rumah kedua untuk Yuri.
Kim Bum tercengang melihat Yuri yang langsung memetikkan jari lentiknya ke piano yang terletak di sudut kafé. Kini Ia membuka mulutnya dan melantunkan lagu “Mistake” sebuah lagu yang Ia ciptakan sendiri. Suaranya yang merdu membut Kim Bum semakin terkagum-kagum olehnya.
“Anda pesan apa, Tuan,” Tanya pelayan saat melihat Kim Bum yang sudah mengambil posisi duduk. Kim Bum tak menghiraukan pertanyaan pelayan itu. Ia terlalu sibuk melihat pesona Yuri.
“Mau pesan apa, Tuan,” tegas pelayan itu.
“Perempuan cantik,” ucap Kim Bum
“Apa??? Anda mau memesan perempuan cantik,” balas pelayan itu heran.
“Ohh bukan! Maksudku, aku mau pesan makanan dan minuman yang paling mahal di sini,” sela Kim Bum tersadar dari lamunannya.
****
“Saatnya menjadi cewek feminim. Aja aja hwaiting,” ujar So Eun penuh semangat kepada dua sahabatnya. Ia sudah bertekad akan merubah dirinya sesuai dengan apa yang diidamkan oleh Kim Bum.
So Eun memeluk kedua sahabatnya dengan gembira.
“Pokoknya kamu harus semangat. Kami akan selalu membantumu . kami rela jadi payungmu saat hujan. Kami rela jadi lap saat kamu berkeringat dan kami siap jadi sapu tanganmu saat kamu menangis,” ucap Hong Ki, ucapannya mengundang tawa dari temannya. Tumben sekali Hong Ki bisa berkata bijak seperti itu.
“So sweet,” ucap So Eun sambil mencubit pipi Hong Ki.
“Yeee kamu aja kali, aku gak ikutan,” timpal Ji Yeon.

Mereka kembali tertawa. Geun Suk menghampiri mereka bertiga dengan suasana hati ceria. Kedatangan Geun Suk yang tiba-tiba membuat mereka berhenti tertawa.
“Hey.. sepertinya kalian sedang bergembira ya,” sapa Geun Suk.
“Tumben kau nimbrung dengan kami, kawan,” timpal Hong Ki.
“Ne, sebenarnya aku ada urusan dengan So Eun,” jawab Geun Suk mengalihkan pandangannya ke wajah So Eun.
“So Eun, kamu dipanggil oleh guru Lee. Ada kabar gembira buatmu.
“Jeongmal?”
“Ayo ikut aku,” ajak Geun Suk
So Eun kemudian mengikuti langkah Geun Suk. Ia tak lupa melambaikan tangannya kepada kedua sahabatnya.
“Mereka berdua memang serasi ya,” ujar Hong Ki saat melihat So Eun dan Geun Suk berjalan beriringan.
“Hushh,” balas Ji Yeon menyikut lengan Hong Ki. Ia sangat paham dengan perasaan So Eun saat ini. Bukan Geun Suk yang diincar So Eun melainkan Kim Bum.
“Apalagi kita berdua. Kita benar-benar serasi kan,” goda Hong Ki.
Kali ini kesabaran Ji Yeon sudah habis. Dijitaknya jidat Hong Ki.
“Kau ini tambah mengada-ada,” ujar Ji Yeon sambil berlalu meninggalkan Hong Ki.
“Bukan mengada-ada tapi inilah yang sebenarnya,” batin Hong Ki.
“So Eun kemarilah,” pinta pak Lee selaku guru olahraga. So Eun berjalan menuju guru Lee.
“Ne, ada apa pak,” Tanya So Eun
“Dalam kurun waktu setahun ini saya melihat permainan basketmu sangat cantik. Terlebih lagi saat melawan SSHS  kemarin, kau telah mentecak gol berkali-kali. Untuk itulah aku memutuskan untuk memasukkanmu sebagai pemain inti di tim basket.”
Mendengar pernyataan tersebut membuat So Eun tercengang. Seluruh bola matanya hendak keluar. Ia memasukkan kembali bola matanya yang hendak keluar. Ia mengembalikkan dirinya ke posisi sadar.
“Mianahamnida, tapi aku tak mau lagi menjadi tim inti,” papar So Eun.
Semua orang terkejut mendengar ucapan So Eun, lebih-lebih Geun Suk.
“Wae, bukannya dari dulu kamu terobsesi menjadi pemain inti,” Tanya Geun Suk heran.
“Untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa karena… ee.. karena…” So Eun tak bisa melanjutkan kalimatnya.
“Karena apa?” Tanya Geun Suk tak sabaran.
“Karena aku akan bergabung sebagai tim cheerleaders,” yakin So Eun.
Sontak semua orang yang berada di ruangan kaget mendengar lontaran dari mulut So Eun.  Perasaan kaget itulah yang membuat mereka ingin pingsan namun mengurungkan niatnya disebabkan tidak ada alas di bawah melainkan hanya lantai kotor.
****
“5, 6, 7, 8. 5, 6, 7, 8.” So Eun sudah bersusah payah menghapal gerakan cheers . sudah berkali-kali ia mencobanya namun selalu saja salah. Sudah 3 hari terakhir ini ia mulai berlatih gerakan cheer dan telah mendapat izin dari pelatih untuk bergabung di sana. Semua itu tentunya atas bantuan dari Ji Yeon sang ketua cheer. Gerakan cheer ternyata 2 kali lebih susah dari pada memasukkan bola ke ring. Meskipun So Eun telah berlatih keras namun ia sangat susah menghapal gerakannya. Ji Yeon memberikan perhatian intens terhadap sahabatnya yang masih awam.
“So Eun-ah, caranya gini. Five, ulurkan tanganmu. Six, putar pergelangan tanganmu dengan cepat.”
Ji Yeon melatih So Eun dengan sabar dan teliti .
“Sepertinya So Eun sudah bisa, ayo kita lanjutkan latihannya,” pimpin Ji Yeon.
“5, 6, 7, 8. 5, 6….” Suara So Eun terhenti melihat gerakan So Eun yang selalu salah.
“So Eun, bisakah kamu mengikuti gerakannya?” Tanya Ji Yeon.
“Udahlah, aku bosan berlatih lagi. Baru mau menggerakkan badan sudah dipotong karena kesalahn wanita perkasa itu. Aku tak mau latihan lagi, capek!” omel Jessica sambil melemparkan pom-pomnya. Kemudia ia keluar ruangan disusul oleh kedua sahabatnya.
So Eun merasa bersalah akibat kesalahan yang dibuatnya. Ji Yeon yang melihatnya langsung menghampiri So Eun.
“Mianheyo,” ucap So Eun menunduk.
“Gwenchana, Ji Yeon-ah. Lagian ini juga baru awal. Kamu harus berusaha lebih keras lagi,” ungkap Ji Yeon menenangkan hati sahabatnya.
“Sebentar lagi aka nada acara ulang tahun sekolah. Kamu harus menunjukkan dirimu bahwa kamu adalah wanita idaman setiap pria. Aku akan membantumu.”
“Hahh gomawo Ji Yeon-ah,” ujar So Eun memeluk Ji Yeon.
“Aja aja hwaiting,” semangat Ji Yeon
“Aja aja hwaiting,” timpal So Eun.
“Aja aja hwaiting,” sorak mereka berdua.
****
So Eun keluar dari ruangan cheer hendak menuju parkiran motornya. Ia berjalan melewati lapangan basket dengan wajah menunduk. Kerinduannya bermain basket ia simpan dalam-dalam. Setiap kali ia melewati tempat itu ia tak memiliki keberanian untuk menatapnya.
“Buuukkk”  lemparan keras bola basket mengenai dahinya. So Eun sudah mengepalkan tangannya berniat untuk memukul.
“Kau tidak apa-apa?”  Tanya seseorang
Suara itu sepertinya tidak asing.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya laki-laki itu kembali sambil mengelus dahi So Eun. So Eun mendongak melihat laki-laki yang kini berasa di dekatnya.
“Kim Bum.” Suara So Eun melemah. Ia hanya bisa bengong melihat Kim Bum.

“Hey kau, di saat situasi seperti ini. Kau masih terpukau melihat ketampananku?” heran Kim Bum sambil pergi.
Kim Bum menoleh kembali dan bekata, “Oh ya… terimakasih karena kau telah berhasil menjahiliku,” senyum Kim Bum.
So Eun masih tertegun dengan apa yang telah dialaminya tadi. Kim Bum telah mengelus dahinya hal itu yang membuat So Eun Nampak bahagia. Saat itu pula ia berjanji bahwa apabila ia mencuci muka, terlebih dahulu ia akan melapis dahinya menggunakan kapas. Dengan begitu sentuhan tangan Kim Bum akan kekal abadi di dahinya.
****
Pesta ulang tahun sekolah pun tiba. Semua siswa dan guru sudah berkumpul di aula tak terkecuali So Eun, Ji Yeon, dan Hong Ki.
“Aku sungguh tidak nyaman dengan gaun ini. Rasanya aku tidak bisa bernafas. Apalagi kakiku ini sudah sakit terjerat heel ini. Aisshhh,” omel So Eun merasa tidak nyaman dengan penampilannya.
“Kamu hanya belum terbiasa,” timpal Ji Yeon.
“Ji Yeon, kamu jadi pasangan dansaku ya?” ajak Hong Ki, Ji Yeon pun mengangguk.
“Kalian curang…” kesal So Eun
“Kau cari saja lelaki yang lebih perkasa darimu agar kau tidak bisa membantingnya saat dansa nanti,” ejek Hong Ki.
Kim Bum datang diiringi sorak sorai para cewek.
“omoooooo baby cute,” ujar salah satu cewek.
“Kim Bum, maukah kamu berdansa denganku,” pinta Jessica sambil merangkul lengan Kim Bum.
Kim Bum langsung menolaknya, matanya kini tertuju pada Yuri. Yuri yang memakai gaun dengan atas merah dan bawahan tembus pandang membuat lekukan tubuhny yang seksi terlihat jelas.

Kim Bum semakin terpesona melihatnya.
“Brukk…” So Eun terjatuh akibat heelnya yang terlalu tinggi. Melihat adegan tersebut, Jessica langsung mengejek So Eun.
“Dasar wanita perkasa. Kau tak pantas memakai gaun seperti itu. Kau tampak seperti banci.”
Mendengar perkataan Jessica. So Eun bangkit dan membuang sandal heelnya. So Eun menghampiri Jessica. Kemudian menjambak rambutnya. Aksi jambak menjambak belangsung. So Eun menarik gaun Jessica hingga sobek.
“Hentikan,” ucap Kim Bum dengan volume yang ditinggikan.
So Eun dan Jessica segera menghentikan aksinya.
“Kalian ini seperti anak kecil saja. Aku paling tidak suka melihat cewek kasar sepertimu,” ujarnya menatap So Eun.


Kamis, 09 Agustus 2012

SMS KACA





Apakah selama ini kita mencari cinta di tempat yang salah????
Itulah kata yang selalu diucapkan Pinka, ketika cintanya bertepuk sebelah tangan. Flash back sejak kejadian yang menyakitkan itu, tepatnya 4 bulan yang lalu, sampai hari ini dia tidak akan pernah memaafkan kebodohannya. Ia begitu terpukul ketika naksir sama teman sekelasnya. Putra adalah cowok yang   dingin, susah ditebak, dan tidak neko-neko merupakan incaran Pinka selama ini. Tapi karena si Putra yang emang udah dari sononya tetap cuek keukeh terhadap Pinka, tidak pernah menganggap Pinka sebagai seorang yang spesial, meskipun Ia tahu Pinka itu naksir berat padanya.
“Pokoknya gw harus luluhkan hati Putra sekarang juga” kata Pinka dengan penuh keyakinan
“Gimana caranya Pink? Semua orang juga tahu, kalo loe ga bakalan bisa ngeluluhin otak es itu. Kecuali kalo loe bawa dia ke matahari dalam jarak satu jengkal, Baru tuh otaknya bakal encer!” Sindir Neza
“Loe liat entar aja deh Za! pokoknya kali ni gw pasti bisa dapetin Putra, pangeran khayalan dalam mimipiku.” balas Pinka sambil tersenyum. Tanpa melihat ke arah belakang, Pinka segera meninggalkan Neza yang masih kebingungan.
            Siang itu ketika pulang sekolah. Pinka menganjurkan teman-temannya agar jangan pulang, alasannya ada ajang menarik yang bakal diperlihatkan. Makanya walaupun bel tanda pulang udah dari tadi bunyi, sekolah masih tetap terlihat rame di lapangan basket. Dari siswa kelas satu sampai kelas tiga masih berkeliaran disana. Ada anak cantik, jelek, kulit hitam, kulit putih, gigi ompong, semua membuat satu kesatuan dengan tujuan yang sama pula yaitu melihat aksi Pinka.
            Dengan pedenya Pinka tiba-tiba datang sambil memegang Putra. Banyak banget lontaran pertanyaan dari anak-anak. Ada yang bilang “Pinka pacaran ya sama putra…”, parahnya lagi ada yang bilang “wah… bukannya Putra takut sama si Pinka”
“Tenang-tenang jangan ada yang komen dulu,gw bakal jawab pertanyaan kalian semua” kata Pinka sabar.
Nafas terhenti, Pinka tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya, Ia begitu takut. Ingin rasanya Ia berlari dan meninggalkan mereka semua, tapi ini semua sudah terlanjur.
“Hari ini gw akan menyatakan semua perasaan gw terhadap Putra” kata Pinka sambil menghadap Putra
“Put… gw tahu selama ini loe tu gak pernah menganggap gw ada di hati loe, loe tetep cuek ama gw. Gw tahu itu semua” kata Pinka berapi-api
“Tapi hari ini gw akan bersikap tegas. Gw mau loe jadi pacar gw. Jika loe nerima gw jadi cewek loe, loe ambil bunga ni tapi jika loe nolak gw loe ambil permen ini dan ludahin muka gw” lanjut Pinka sambil menjulurkan kedua benda tersebut.
“Loe kira ini drama ya…” Tanya Putra heran, dia gak nyangka Pinka bakalan senekat ini
“Putra gw mohon jawab gw sekarang” kata Pinka dengan wajah memelas
“Terima-terima…..” sorak anak-anak
“Gw ga bisa…”  bantah Putra
“Jawab…..” Kata Pinka dengan suara meninggi
“Ok, kalau itu mau loe. Sebelumnya gw minta maaf meskipun ini sulit namun tetap gw gak bisa jadi pacar lo” jawab Putra, sambil mengambil permen tersebut dan meludahi Pinka
Setelah minta maaf, Putra segera berlari meninggalkan lapangan tersebut. Anak-anak pada kecewa dengan keputusan yang diambil Putra mereka prihatin melihat keadaan Pinka. Mereka yakin Pinka berusaha keras untuk menahan air matanya.
Hati Pinka terasa perih, perih yang amat mendalam. Dicobanya untuk tidak menangis, tapi rasanya Ia begitu lelah untuk menahan air matanya. Seketika itu pula hujanpun turun begitu derasnya, lapangan yang tadinya ramai kini tak seorangpun terlihat disana kecuali Pinka. Akhirnya ia memutuskan untuk menangis, dia yakin langit juga ikut nangis melihat keadaannya.
“Bodohnya gw…. Kenapa  gw mencintai orang yang cintanya gak akan  pernah untuk gw.” Teriak Pinka menyesali nasib
“Gak… gw gak boleh nangis, air mata ini gak boleh jatuh demi seseorang yang tidak akan pernah menjadi milik gw! Pliss gw mohon air mata jangan jatuh dong..” Sambung Pinka sambil menghapus air matanya.
 

 Nuansa Pink memang jiwa gw, jadinya gak salah dong kalo gw bernama Pinka! Sampai hari ini gw gak bakalan bisa lupain kejadian yang memalukan itu, bodohnya gw kenapa harus bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Tapi kalau diingat-ingat itu merupakan pengalaman yang paling berkesan dalam hidup gw, dan sumpah gw gak bakalan ngelakuin kayak gitu lagi! Apakah mungkin selama ini gw mencari cinta di tempat yang salah??? Kata demi kata diukir oleh Pinka di dairy kesayangannya! Saat itulah hpnya bunyi tanda sms masuk
“honey… keluar yo?”
                                                                                                 Neza
“Kemana?
                                                                                                 Send to Neza
Receive message
“Temenin gw ke te tmpat pesta. Kbetulan hr ni tmen gw ultah. Lo ikut kan, iya kan, iya dong, mau dong, harus dong. Pinka cantik deh, imut deh, manis deh, jelek banyak2 jg mau kan? Makasih!”
                                                                                                  Neza
“Uhh tuh anak sukanya memaksa kehendak orang lain, padahal belum tentu kan gw setuju.” gerutu Pinka sambil berjalan ke kamar mandi.
“Tiiiiit……tiiiiit…..” suara klakson mobil berbunyi. Segeralah Pinka menengok dari balik jendela! Ternyata itu adalah kerjaan si Neza.
“Pinka cepetan keluar acaranya mau mulai ni” teriak Neza ketika melihat Pinka
“Aduh za, kok mendadak gini sih, gw kan belum mandi” balas Pinka
“Alaaaah loe mandi gak mandi tetep cantik kok, udah pake baju sana gw tunggu 5 menit” perintah Neza
“Ni udah pake baju” jawab Pinka dengan muka polos. Melihat raut muka Neza marah…
“Ya ya jangan marah dong, gw kan tadi cuma bercanda.” sambung Pinka sambil berlari memasuki kamarnya.
 

Jalanan macet ketika mereka di tengah perjalanan. Dengan cuaca yang amat dingin, dengan sabar mereka menunggu di dalam mobil
“Aduhh…kenapa mesti macet lagi ni jalanan, mana acaranya bentar lagi mulai! Ehhh bentar dulu deh Pink, mobil sebelah loe tu” kata Neza penasaran.
Pinka segera menolehkan pandangannya ke arah mobil disebelahnya. Ternyata isinya seorang cowok yang lagi senyam-senyum pada Pinka.
“Wah… dateng lagi fans loe Pink! Udah kecengin aja dia. Lagian dia kan gak jauh beda dari cakepnya Putra. Ehhh liat-liat dia lagi nulis apaan tuhhh?” kata Neza histeris
Oooh my god ternyata cowok nyebelin itu nulis kata Aries di kaca mobilnya. Gerutu Pinka dalam hati.
“Wahhh cow itu nulis sms lewat kaca, romantis banget! Udah Pink bales aja smsnya” kata Neza tambah histeris.
Mendengar perintah Neza, Pinka segera menulis namanya di kaca mobil milik Neza. Balesan segera datang dari kaca mobil sebelah.
“Suka warna Pink ya?”
                                                                                               Aries
“Banget”
                                                                                                Pinka
“Manja dong”
                                                                                                Aries
“Ya gak lah, enak aja     “
                                                                                                Pinka
“Ye… ngambek! Km lucu deh”
                                                                                                Aries
“Yaiyalah”
                                                                                                “Pinka”
“Boleh minta no hp?”                                                            
                                                                                                “Aries”
“0818036xxxxx”
                                                                                                “Pinka”
Melihat Pinka sedang menulis no hpnya, Ariespun segera menulis no hpnya. Tapi belum selesai Ia menulis no hp nya, tiba-tiba mobil disebelahnya menghilang. Ingin mengejar namun sudah terlambat laju mobil itu sangat kencang, dan sudah kehilangan jejak.
            Neza yang merasa dikacangin sama Pinka segera melaju mobilnya dengan amat kencang.
“Aduhhh za, kenapa loe tegaan gini sih sama gw. Gw kan belum nyatat no hpnya Aries.” keluh Pinka sebal
“Alaaah loe tu khawatiran banget sih, jadi orang! Loe kan tahu acaranya udah mulai dari tadi, kita udah terlambat tauu!” Sela Neza
“Bukannya gitu Za, masalahnya Aries juga ga sempet nulis no hp gw.”  kata Pinka pasrah
“Aduhh sori Pink gw gak tahu, abisnya gw bete sih dicuekin ama loe. Lagian jalanan udah sedari tadi berhenti macetnya”  jawab Neza cari-cari alasan
“Tapi kan Za, gw tu masih penasaran ama tu cowok” bales Pinka sebal
“ Jadi loe suka sama tu cowok” kata Neza heran
“Belum tentu Za…..” belum selesai Pinka melanjutkan kata-katanya. Neza segera nyorocos
“Berarti loe udah lupain Putra dong? Aduhh sorry banget ya Pink gw ga tau, maaf! kata neza penuh penyesalan
“Yach gak apa-apa.Lagian  kalau emang jodoh suatu hari nanti, gw pasti bakal bertemu dengan Aries” jawab Pinka bijak.
“Aduhhh, pink gw masih penasaran banget ama tu cowok” papar Neza keesokan harinya. Sambil memoleskan bedak ke pipinya yang chubby ke kaca spion miliknya, emang kebiasaan dia dari dulu gak bisa liat kaca, bawaannya pengen dandan terus.
“Iya, gw tau! Dandannya udah dong, kita dah telat niey. Emang loe mau dihukum ma pak Widodo yang kilernya minta ampun.” Bantah Pinka sambil menarik tangan Neza, keduanya pun dengan gerakan terburu-buru melangkah ke kelas.
“Auuuuu,,” Tanpa sadar Pinka menabrak seorang cowok. “Maa… af” Smbung Pinka, suaranya terputus ketika menoleh kearah cowok tersebut. Ia berdiri mematung melihat cowok yang ditabraknya tadi, Pinka merasa wajah cowok itu sudah tidak asing lagi.
“Ayooo Pink, kita udah telat niey” Kata Neza mengejutkan Pinka dari lamunannya, Ia segera menarik tangan Pinka dengan paksa.
“Ouhhh syukur belum masuk, tumben pak Widodo telat, biasanya dia tu disiplin banget” Oceh Neza ketika sampai di kelas. “Ehhh loe kenapa Pink melamun aja dari tadi, loe kemasukan setan yaaa” lanjut Neza, mengagetkan Pinka
“Nez… tadi gue,,  liat…liat..” Kata Pinka terbata-bata
“Liat apa??” Pembicaraan Neza terputus dikarenakan pak Widodo masuk bersama seorang cowok yang dirtabrak Pinka tadi. Suasana yang tadinya ramai kini hening. Seperti biasa pak Widodo menyapa murid-muridnya. “ Selamat pagi anak-anak” sapanya, “Kalian senang atau tidak yang jelas kalian dapat teman baru pindahan dari Malang, nak perkenalkan dirimu.” Lanjut pak Widodo sambil menepuk bahu Aries. Yach… itu memang bener-bener Aries cowok yang tadi malam ditemui Pinka di jalan. Dengan sangat sopan Aries memperkenalkan dirinya. Setelah itu pak Widodo menyuruh Putra untuk duduk di samping Pinka, kebetulan bangku di sebelah Pinka kosong.
“Hey… kita ketemu lagi, apakah ini yang dikatakan jodoh?” Sapa Aries ketika duduk di sebelah bangku Pinka. Pinka hanya bisa tersenyum melihat senyum nakalnya Aries. Perasaan Pinka lama-lama hilang terhadap Putra seiring dengan bertambah kedekatannya dengan Aries. Meskipun setelah datangnya Aries, Putra mulai perhatian sama Pinka namun perhatian Putra yang dulu diimpikan Pinka tidak seindah seperti yang ia bayangkan. Ia lebih nyaman berada disamping Aries, cowok yang pernah sms dia lewat kaca…..